Apakah Tenaga Dalam Hanya Berguna Untuk Bela Diri?

Tenaga Dalam sangat umum dikaitkan dengan olah pertahanan, perlindungan dan keselamatan diri. Meski demikian, perlu dipahami bahwa hakikat dari Tenaga Dalam yaitu Energi alami dari alam semesta. Jika ada Tenaga Dalam yang digunakan sebagai bela diri, itu merupakan sebagian kecil pemanfaatan Energi Tenaga Dalam yang begitu luas.

Energi dari alam semesta yang diolah dengan Tenaga Dalam dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan. Diantaranya Perlindungan diri, Penyembuhan, Kecantikan, Daya tarik alami, Memancarkan pesona dari dalam, keberuntungan dan masih banyak lagi tujuan lain yang dapat diperoleh.

Lantas muncul pertanyaan mengapa Tenaga Dalam yang ada di masyarakat erat kaitannya dengan Bela Diri? Jawabannya tentu saja tidak lepas dari kondisi zaman dahulu ketika Tenaga Dalam mulai diperkenalkan. Pada masa kerajaan sering terjadi perebutan kekuasaan, saling menyerang, mengalahkan, pertikaian bahkan pembunuhan. karena itu dahulu ketika seorang akan bepergian ke luar wilayah harus mempunyai kemempuan untuk melindungi dirinya.

Oleh pendekar, prajurit dan kesatria ilmu Tenaga Dalam menjadi ilmu yang wajib dikuasai sebagai dasar bela diri. Sehingga ilmu Tenaga Dalam banyak diajarkan di suatu padepokan kemudian berkembang dari satu padepokan ke padepokan lainnya. Demikianlah yang menjadi tonggak Tenaga Dalam dikenal sebagai sarana Bela Diri.

Tenaga Dalam sebagai sarana keselamatan dapat dimanfaatkan untuk membentuk perisai energi yang akan melindungi tubuh dari serangan lawan. Tenaga Dalam juga mampu mengubah niat jahat seseorang menjadi sikap netral bahkan tidak hanya membentuk benteng serangan fisik Tenaga Dalam pun bisa difungsikan untuk melindungi diri dari serangan yang tak kasat mata. Misal : Santet, teluh, guna-guna.

Lebih jauh lagi Tenaga Dalam membangkitkan potensi diri diluar kemampuan biasanya. Kemampuan yang tersembuni dalam diri menjadi bangkit karena dipicu Energi Tenaga Dalam. Kemampuan yang banyak terjadi pada pejuang kemerdekaan zaman dahulu.

Para kyai atau sesepuh yang menguasai yang menguasai tehnik Tenaga dalam mengisikan energi positif kedalam seluruh tubuh para pejuang. Sehingga para pejuang mempunyai kekuatan diluar batas kemampuannya. Seperti berlari lebih kencang dari kemampuan batas biasanya, bisa melompat pagar atau tembok tinggi yag secara nalar sangat sulit untuk dilewati, mampu menghindari setiap tembakan musuh tanpa terluka sedikitpun, tidak mempan tertembak bahkan peluru tidak dapat menembus.

Beda zaman beda pula pemanfaatannya. Dahulu Tenaga Dalam lebih cenderung dimanfaatkan sebagai media perlindungan diri. Tenaga Dalam juga sering dikaitkan dengan ilmu bela diri. Karena kondisi keamanan masa itu kurang aman sehingga memaksa seseorang harus menguasai Tenaga Dalam sebagai Dasar bela diri yang digunakan untuk melindungi dirinya.

Dahulu jika ingin pergi keluar wilayah seseorang selalu was-was disebabkan kondisi yang kurang aman dan sewaktu-waktu kejahatan, bahaya menghadang. Beda dengan zaman sekarang yang relatif lebih aman. Kemanapun kita pergi tidak lagi merasa was-was karena kondisi keamanan jauh lebih baik dari zaman dahulu.

Nah, dengan situasi sekarang yang relatif lebih aman. Pemanfaatan Tenaga Dalam sebagai media perlindungan diri atau bela diri bukanlah satu-satunya hal terpenting dalam kehidupan. Berkembangnya kehidupan manusia semakin beragam. Dari situlah mulai dikembangkan pola pemanfaatan Tenaga Dalam sebagaimana beragamnya kebutuhan manusia.

Sejatinya Tenaga Dalam bersumber pada energi positif alam semesta. Energi positif dari alam yanga dapat diproses, diolah, dan dimanfaatkan lebih luas lagi. Bukan sekedar untuk bela diri saja melainkan Energi yang dipancarkan Tenaga Dalam pun mampu membantu proses penyembuhan penyakit, menjadikan wajah lebih berseri dan memikat, menjadikan diri lebih berwibawa serta menjadikan diri selalu tampil percaya diri dimanapun berada.